Buku Buku Baru Dan Terpopuler Di Indonesia dan Amerika Serikat

Temukan Buku-Buku Baru dari Penerbit Nasional dan Dunia :

Gramedia, Erlangga, Mizan, Amazon, Simon Schuster, John Wiley & Sons dan Harvard Business Review

Jumat, 24 September 2010

INFORMASI PERKEMBANGAN PENGUNGSI GUNUNG SINABUNG PER 23 SEPTEMBER 2010




STATUS GUNUNG SINABUNG :
Sesuai dengan surat Badan Geologi No. 73/45/BGL.V/2010, tgl 23 September 2010, telah dinyatakan tentang perkembangan status gunung Sinabung dari Status AWAS (Level IV) menjadi Status SIAGA. Secara umum tingkatan status Gunung berapi adalah : NORMAL, WASPADA, SIAGA, AWAS. Dengan perubahan status tersebut, penduduk yang berdomisili di Radius di atas 3,5 km sudah bisa pulang ke desanya.

Sementara desa yang berjarak radius sampai 3,5 km yaitu Desa Suka Meriah; Bekerah dan Simacem yang berada di mulut lembah gunung, tetap tidak layak huni karena terdapat ancaman bahaya erupsi G.Sinabung. Seluruh masyarakat yang berasal dari ketiga desa tersebut diminta tetap tinggal di pengungsian dan akan ditempatkan di kompleks Pioneer desa Kacaribu (posisinya antara Pasar Singa dan Kacaribu).

Tehnis pemulangan masyarakat ke masing-masing desa diatur oleh pihak Pemerintah Kabupaten Karo. Kepada masyarakat telah dihimbau agar kembali ke desa mereka besok Jumat, tgl 24 September 2010. Sebenarnya satu minggu terakhir, pada umumnya masyarakat setiap pagi pulang ke desanya dan bercocok tanam hingga sore hari, lalu kembali lagi ke tempat pengungsian.

Berita baik tersebut tentu disambut baik oleh seluruh masyarakat. Suasana gembira dan haru diantara mereka karena harus berpisah satu sama lain. Di sisi lain, dengan kembalinya masyarakat ke desa, bukan berarti mereka bisa segera bernafas lega, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah dan gereja a.l. tentang perekonomian, kebutuhan hidup, pertanian, pendidikan, keuangan untuk biaya sehari-hari juga tentang perkembangan aktivitas gunung Sinabung. Namun ada juga masyarakat yang masih membutuhkan informasi tentang kepastian situasi gunung Sinabung.
Team Penanggulangan Bencana Posko GBKP sore tadi telah memutuskan untuk membekali masyarakat yang ada di Posko GBKP yang mau pulang dengan Beras, Supermie dan Makanan Ringan. Sementara kita juga terus berharap agar Pemerintah juga bisa membekali mereka pulang dengan kebutuhan lainnya.

KEMBALINYA KEGIATAN “GURU SIBASO”
Bencana Gunung Sinabung ternyata membawa dampak terhadap iman percaya masyarakat setempat. Beberapa desa kembali mengadakan kegiatan ritual agama suku di Gunung Sinabung. Mereka memanggil “Guru Sibaso” (dukun  pemimpin spiritual pada agama suku); mempersembahkan persembahan hewan antara lain Kambing, Lembu/Sapi dan ternak lainnya.

Beberapa desa telah mengadakan ritual penyembahan Gunung Sinabung. Hari ini, tgl 23 September 2010, kegiatan tsbt di lakukan di desa Kuta Rayat. Mereka mewajibkan seluruh masyarakat desa ikut, kalau tidak mau, mereka akan kena sanksi sosial. Ada keyakinan diantara orangtua (lansia), bahwa meletusnya gunung Sinabung akibat keserakahan masyarakat yang telah menodai, mengambil kekayaan gunung dalam bentuk belerang dll. Oleh sebab itu, menurut mereka gunung Sinabung “marah” dan semua masyarakat harus ikut dalam kegiatan ritual tersebut. Menurut informasi, ada juga Jemaat GBKP yang ikut dalam kegiatan ritual tersebut. Tentu ini jadi tantangan bagi gereja kita.

PELAYANAN KEROHANIAN & TRAUMA HEALING
Team Kerohanian GBKP tetap melaksanakan pelayanan Ibadah di setiap Posko setiap harinya. Posko yang dilayani tidak hanya Posko yang dikelola oleh GBKP tetapi juga oleh Pemerintah yang ada di Kota Kabanjahe, Berastagi sekitar. Sementara Posko yang ada di beberapa desa, tetap melakukan ibadah yang diatur oleh Jemaat setempat.
Secara khusus pada tgl 19 September 2010 di GBKP Perteguhen, pukul 20.00 – 23.00 WIB team Kerohanian telah mengadakan Ibadah Bersama Pengungsi dari perwakilan tiap-tiap Posko masing-masing 20 orang / Posko. Hadir sekitar 400 orang pengungsi. Ibadah dilayani oleh Pdt S.N.Bukit STh; Pdt DR Erik Barus; Pdt Agustinus Purba; Pdt Jenni E. Br Keliat; Pdt Surya Sembiring; Pdt Musa Ginting dan team dari Yayasan Sola Gratia Medan yang dikordinir oleh Ketua Yayasan yaitu Ibu Jendamita Sembiring MMin. Dari Moderamen hadir Dk. Khristiani br Ginting (Bendahara Umum/ Bendahara Posko GBKP); Pdt Rosmalia Barus (Kabid Personalia & SDM / Sekretaris Team Posko GBKP); BPP Moria; BPP Mamre; BPP Permata , RG GBKP Perteguhen, BP GBKP Klasis Kabanjahe serta jemaat GBKP lainnya.

Demikian juga telah dilaksanakan Ibadah bersama pada tanggal 21 September 2010 di GBKP Simpang VI Kabanjahe, pukul 20.00 – 22.30 WIB dihadiri kurang lebih 150 orang. Ibadah dilayani oleh Pdt Jenny E. Br Keliat, Pdt Jakcson Barus. Pada kesempatan tersebut hadir juga BP Rg GBKP Simpang VI; Direktur PPWG GBKP Pdt Pranantha Manik; Pdt Rosmalia br Barus serta Jemaat GBKP lainnya.
Dari kedua kegiatan tersebut di atas, ada beberapa refleksi yang perlu direnungkan bersama :

• Kuasa Allah melampaui segala kuasa yang ada di bumi. Oleh sebab itu tetap percaya kepada Allah dengan sepenuh hati serta menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. Allah tidak pernah meninggalkan kita yang percaya kepadaNya (Ibrani 13 : 5).

• Letusan Gunung Sinabung bukan tanda kemarahan Allah, tetapi tanda peringatan (bell) agar kita selalu mengoreksi diri tentang iman percaya dan tingkah laku kita. Jika ada pihak -pihak yang mengajak masyarakat untuk meninggalkan Allah dan kembali kepada berhala-berhala serta meminta untuk membawa ternak persembahan, agar menolaknya, karena Yesus telah dipersembahkan melalui darahNya serta telah mati sekali untuk selama-lamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).

• Letusan gunung sebagai tanda peringatan (bell) mendorong kita untuk mempertanyakan theologis dan praktis : Mengapa bukan Pelayan Tuhan, Pdt, Majelis yang dipakai untuk menyatakan tanda peringatan tersebut? Apakah Pelayan Tuhan tersebut tidak dipakai lagi oleh Tuhan atau pelayan Tuhan tidak di dengar lagi oleh umatNya? Tuhan kita bukan Allah yang ingin menghancurkan kita, Allah itu baik kepada semua orang.

•Dampak dari letusan gunung Sinabung tersebut ternyata telah membawa berkat bagi Jemaat. Peristiwa tersebut telah meruntuhkan tembok-tembok diakonia konvensional, tradisional serta membangun diakonia transformal. Diakonia yang menerobos lintas suku, agama. Sekecil apa pun jumlahnya, umat muslim yang berada di posko GBKP tetap dilayani kebutuhan2nya apalagi saat itu adalah saat Ibadah Puasa. Peristiwa tersebut telah memberi warna dan gambaran lain di negara kita. Gereja harus menjadi gereja bagi semua.

• Bencana ini membawa kebaikan dan berkah bagi masyarakat karo serta menghimpun solidaritas kita diantara orang karo, juga dengan saudara kita yang lain juga.Bencana ini membuka peluang bagi GBKP untuk berkembang.

POSKO PENGUNGSI
Satu minggu terakhir, sejalan dengan penurunan aktivitas gunung Sinabung, banyak masyarakat pulang ke desa mereka di siang hari dan kembali ke pengungsian di sore atau malam hari. Beberapa informasi dari Posko-posko pengungsi yang kami terima tanggal 21 September 2010:

POSKO GBKP SIMPANG VI Kabanjahe
Pengungsi yang umumnya datang sesudah letusan kedua yang berasal dari desa Perteguhan dan Ndokum Siroga , Surbakti kecamatan Simpang IV sudah pulang semua. Desa-desa tersebut berada di luar radius 6 km. Namun sektar 4 (empat) hari lalu anak-anak sekolah dari Posko Pengungsi di Desa Telagah Kab. Langkat berjumlah 60 orang bersama 11 orangtua, datang dan tinggal di GBKP Sim. VI Kabanjahe. Orangtua dari anak-anak tersebut sudah pulang ke desa mereka di Kutarayat dan sekitar. Anak-anaknya masih tetap tinggal di Pengungsian karena kegiatan sekolah di desa mereka belum berjalan. Sehingga mereka tetap bersekolah di sekolah-sekolah yang telah ditentukan Pem.Kab Karo di Kabanjahe. Secara bergantian orangtunya menjaga anak-anak tersebut. Pelayanan terhadap para pengungsi di tempat ini dilakukan oleh Perempuan / Moria dan Jemaat GBKP Simpang VI yang dilayani oleh Pdt Jackson Barus.

Menurut rencana Bidang Marturia Klasis Kabanjahe Tigapanah, akan mengadakan pelayanan Iman /Ibadah di desa asal pengungsi dengan kordinasi bersama team kerohanian Team Penanggulangan Bencana GBKP.
Untuk ke 60 anak-anak tersebut di atas, selain mengikuti pendidikan sekolah, Jemaat GBKP Simpang VI telah merancang kursus bahasa Inggris maupun mengadakan kegiatan trauma healing. Alangkah indahnya jika ada Jemaat yang mau menopang biaya pendidikan anak-anak kita tersebut.

POSKO GEDUNG DEPAG KABANJAHE :
Pengungsi yang berada di kantor Depag dilayani oleh Posko GBKP. Pengungsi terdiri dari berbagai agama dan semuanya dilayani dengan baik, termasuk mempersiapkan manakan berbuka puasa dan sahur bagi yang beragama Islam.

POSKO KWK GBKP BERASTAGI :
Penanggungjawab posko adalah Komisi Perempuan GBKP (BPP Moria). Di Posko ini umumnya keluarga muda dan Lanjut usia (Lansia), jumlah anak-anak 423 orang antara kelas 3 – 6. Lanjut Usia 38 orang. Yang beragama muslim 25 kk. Untuk mengantisipasi terjadinya masalah-masalah sosial diantara pengungsi serta mengingat tingginya jumlah keluarga muda, maka panitia Posko telah mempersiapkan tempat khusus bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yang mereka sebut “Ingan Arih-arih” (Tempat berdiskusi) sebanyak 3 (tiga) kamar.
Para pengungsi juga diberi tugas mengorganisir posko, masak, kebersihan.

POSKO KUTABULUH
Jumlah pengungsi per 21 September 2010 adalah 400 org. Jumlah anak sekolah SD 77
orang, SMP 37 orang dan SMU 28 orang  Jumlah : 142 orang

POSKO SIABANG-ABANG
Jumlah pengungsi sekitar 850 orang dari desa Kutambaru dan Susuk, desa yang berada di luar radius 6 (enam) km. Walaupun sudah ada pemberitahuan dari pemerintah agar para pengungsi kembali ke desanya, namun mereka tidak mau pindah karena sulitnya transportasi.. Pengungsi memakai gedung Gereja GBKP; GIKI dan Jambur. Jumlah anak sekolah : SD 120 orang; SMP 236 orang dan SMU 134 orang  jumlah 490 orang.

POSKO TANJUNG :
Jumlah pengngsi 733 orang. Diantaranya anak-anak : SD 70 orang, SMP 28 orang dan SMU 3 orang  jumlah 101 orang.

Di ketiga posko di atas Kutabuluh; Siabang-abang; Tanjung pada umumnya orangtua pulang ke desa mereka masing-masing. Seluruh anak-anak ditinggalkan di tempat pengungsian. Keadaan ini menjadi masalah baru bagi panitia posko karena harus menjaga anak-anak tersebut. Kordinator Lapangan ketiga Posko di atas adalah Pdt Sentosa Gurusinga Ketua Klasis GBKP Sinabun dibantu oleh dua orang vicaris /cln Pdt. Teti br Sinulingga dan Vic.Emasdina br Sembiring. Sejak hari pertama sampai saat ini mereka tidak pernah meninggalkan para pengungsi. (Catatan keprihatinan bahwa sebenarnya masih ada tenaga pelayan /Pdt/Vic lainnya di Klasis ini tetapi tidak tergerak hatinya oleh belas kasihan).

POSKO Gedung PPWG GBKP (ZENTRUM)
Umumnya pengungsi di gedung PPWG GBKP (Zentrum) masuk tanggal 3 September 2010 pindahan dari beberapa tempat pengungsian lain yang berada di “Jambur”. Mereka berasal dari desa Berastepu , Sibintun, Perteguhen, Kebayaken. Mereka ditempatkan di ruang Pendidikan 1,2 dan bagi yang sakit ditempatkan di ruang VIP 5.

Pada tg 21 September 201 pengungsi yang berasal dari desa dengan radius di atas 6 km sudah pulang kecuali 2 (dua) orgtua yg sedang sakit. Saat ini jumlah pengungsi yang berada pada radius 6 km berjumlah 104 orang, anak-anak SD 6 orang, SMP 3 orang dan SMU 1 orang dan yang lainnya usia pra sekolah. Di tempat ini juga ada seorang Ibu yang sedang mengandung usia kandungan 2 minggu.

Di tempat ini setiap pengungsi diberi peralatan makan yang mereka pakai dan cuci sendiri. Mereka juga membantu masak dan kebersihan serta gotong royong bersama. Kordinator Posko adalah Pdt Pranantha Ginting Manik.

POSKO MULIARAYAT :
Para pengungsi sudah kembali ke desa masing-masing sejak tgl 16 September 2010. Posko ini dikelola bersama antara Pemerintahan Desa dan Gereja GBKP. Kordinator Lapangan Posko adalah Vicaris /Cln.Pdt Merry Betty.

UPAYA PEMULIHAN :
Team Penanggulangan Bencana G Sinabung GBKP telah menyusun perencanaan pasca pemulangan pengungsi antara lain bidang :
• Trauma healing / Pastral Counseling
• Logistik
• Informasi / Peta Kerentanan
• Anak-anak Ceria / Pendidikan Anak
• Informasi Posko-posko
• Pemberdayaan dua klasis yaitu Kabanjahe & Sinabun, dalam mendampingi masyarakat.
• Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Kerjasama dengan Pemerintah dan lembaga lainnya); Pertanian.
• Sanitasi
• Sosialisasi dan Mitigasi.

Yang menjadi pelaksana dalam seluruh kegiatan di atas adalah stake holder Moderamen GBKP serta unit-unit dan Badan Pelayanan GBKP yang sudah menyatakan dukungannya antara lain: Pelayanan Kategorial GBKP (ANAK; PEMUDA,PEREMPUAN DAN PRIA); Komisi Penanggulangan Bencana GBKP; Team Pastoral GBKP; UEM ; OXFAM; GKPS; Yayasan Ate Keleng/ Parpem GBKP; STT Abdi Sabda, TAGANA/ASIGANA GBKP; BNKP

INFORMASI BENDAHARA :
Bantuan dana dari masyarakat; Jemaat; Lembaga Mitra; Lembaga Gereja sampai per 20 September 2010 berjumlah Rp. 772.000.000,- (Tujuh ratus tujuh puluh dua juta rupiah) yang dikirimkan melalui rekening bank Team GBKP dan tunai. Informasi awal tentang keuangan disampaikan melalui Sidang Klasis seluruh GBKP yang dilaksanakan pada akhir bulan september ini. Selanjutnya akan dipersiapkan laporan bulanan selama dana bencana tersebut masih tersedia.

SOSIALISASI TANGGAP BENCANA
Sosialisasi Tanggap Bencana G Sinabung telah terlaksana di 3 (tiga) tempat lagi yaitu Gedung KWK GBKP Berastagi; Jambur Pulungan (21 September ) dan Jambur Dalihan Natolu (23 September 2010). Kegiatan Sosialisasi ini dilaksanakan oleh Badan Geologi Nasional kerjasama dengan Moderamen GBKP dengan Nara Sumber Gde Suantika; Agus; Jimmi Sinulingga; Elieser Ginting; Sadrah Sukatendel. Tim Sosialisasi juga telah merecanakan akan mengadakan pelatihan Mitigasi pasca pemulangan pengungsi yang akan difasilitasi oleh Badan Geolog Bandung. Mohon dukungan doa untuk kegiatan tersebut.


KEGIATAN ANAK :
Kegiatan Ceria Anak masih terus dilaksanakan hingga tgl 16 September 2010. Tgl 16 Sept 2010 merupakan hari pertama anak-anak masuk sekolah. Selama masa sekolah ini. Kegitan Posko Anka Ceria menjadi agak terbatas, berhubung karena selain anak-anak yang harus masuk sekolah,tetapi juga tenaga relawan anak pad umumnya masuk sekolah di pagi hari. Namun demikan KA/KR Moderamen (Badan Pengurus Pusat Pelayanan Anak) berkeinginan mendirikan posko bermain, belajar serta perpustakaan anak. Diupayakan di setiap Posko atau desa, dibuat Perpustakaan atau Taman Bacaan. Buku-buku anak akan di drop per 2 (dua) minggu di setiap desa/ posko.

TK GBKP Simpang VI Kabanjahe menawarkan kepada setiap Posko untuk memakai fasilitas bermain TK antara lain fasilitas mandi bola anak-anak. Jumlah peserta 10 – 15 0rg. Demikian juga kelas PAUD GBKP Asrama Kodim.

PEMUDA
Sementara itu kelompok Pemuda (PERMATA) mendorong agar Pemuda tkt Majelis (Permata runggun) GBKP yang ada di sekitar tempat pengungsian bekerjasama dengan pemuda yang ada di Posko pengungsi sesuai dengan program yang ada. Terdapat indikasi di beberapa Posko telah terjadi hubungan asmara antara para pemuda; pemuda dan remaja bahkan kaum bapa dengan pemudi/remaja perempuan. Tentu ini suatu kondisi yang tidak kita inginkan terjadi.

Salah satu yang menjadi pergumulan besar bagi orangtua pasca pengungsian adalah masalah biaya pendidikan anak-anak yang akan dan yang duduk di Perguruan Tinggi . Beberapa upaya sudah dilakukan untuk meringankan beban mereka antara lan mencari beasiswa baik secara pribadi maupun lembaga. Kita berterimakasih kepada Pimpinan AMIK Pt. Tenang Malem Tarigan yang secara lisan telah menyatakan akan memberikan beasiswa penuh kepada Mahasiswa yang kuliah di AMIK yang berasal dari desa sekitar Gunung Sinabung selama 3 (tiga) tahun berturut-turut.

MITRA DAN RELAWAN
Sampi hari ini, mitra GBKP yang masih menopang Posko GBKP baik langsung maupun tidak langsung adalah RSU Bina Kasih; TAGANA/ASIGANA; BADAN GEOLOG NASIONAL; GKI; GKPS; CHEVRON, UEM. Sementara para relawan masih tetap ada yang masuk walaupun tidak sebanyak jumlah awal kejadian. Relawan yang masuk dari STT Abdi Sabda 21 orang; Rombongan Team Gereja dan Pemuda dari Korea 11 orang. Khusus untuk GKI, mereka telah menyatakan kesediaan mengirimkan 2 (dua) orang tenaga Dokter selama dibutuhkan pasca pemulangan pengungsi. Kita berterimakasih atas perhatian GKI.

BANTUAN UNTUK PENGUNGSI
Bantuan untuk pengungsi masih terus datang walaupun tidak sebanyak di awal kejadian. Minggu 19 September 2010 mantan Kaplres Tanah Karo Bpk Wakano bersama rombongan dari Batam berkunjung ke GBKP. Selama kepemimpinan beliau di Tanah Karo beberapa tahun yang lalu, beliau sangat dekat dengan masyarakat. Demikian juga Team Ephorus GKPS yang baru terpilih Bpk Pdt Jaka tgl 22 Sep 2010 bersama rombongannya mengunjungi dan menyerahkan bantuan tahap kedua; dan dari Perusahaan Minyak Mentah Chevron Pt Ir Alimin Ginting dan Bpk Tatot Hendrasto (Senior Specialist Chevron Indonesia) yang menyerahkan langsung bantuannya ke kantor Moderamen. Kita berterimakasih untuk semua dukungan tersebut.

RAPAT KORDINASI
Rapat Kordinasi Team GBKP Penanggulangan Bencana Gn.Sinabung telah diadakan pada tgl 21 September 2010. Dalam percakapan tersebut, seluruh peserta yang hadir memegang teguh komitmen pelayanan selama di pengungsian. Kordinator Umum Pdt Agustinus Purba memberikan dorongan dan semangat kepada semua peserta untuk tidak putus asa dalam menangani pengungsian tersebut. Peserta yang hadir : Pdt Agustinus Purba; Guntur Tarigan; Pdt. Sentosa Gurusinga & Bendahara Klasis Sinabun (Korlap Posko Kutabuluh; Siabang-abang;Bintang Meriah); Pdt Jenny E. Keliat (Moria/ team Kerohanian); Jimmy Sinulingga (Team Sosialisasi); Yanta Ginting (Tim Logistik); Abel Tarigan (Posko Anak Ceria); Budiman Sitepu (Pemuda/PERMATA); Dkn Khristiani br Ginting (Bendahara Team); Pdt Rosmalia Barus (Sekretaris Team); Vic. Merry Betty (Korlap Muliarayat); Guntur Tarigan (Tim Logistik).


Demikianlah informasi ini kami sampakan, semoga bermanfaat.
Tuhan memberkati.

Pdt Agustinus Purba STh Pdt Rosmalia Barus
Ketua Sekretaris

Tidak ada komentar: